Kanopi Hijau Indonesia, Minta APH Tindak Tegas Pelaku Perburuan Gaja dan Perusak Bentang Alam Sebelat

WARNABENGKULU.CO.ID, BENGKULU-Peringatan Hari Gajah Sedunia ke 25 digelar kemarin 12 Agustus 2025. Peringatan hari Gaja di Bengkulu tahun 2025 ini mengangkat tema Global Elephant Day-Gajah Stateless atau gajah tanpa status. Di Bengkulu peringatan hari Gaja ditandai dengan aksi oleh Kanopi Hijau Indonesia di ikon Pantai Panjang Kota Bengkulu.

Tema Aliansi Selamatkan Bentang Alam Seblat diseruhkan dalam aksi Kanopi hijau Indonesia Indonesia tahun ini. Ini karena status perlindungan Gajah Sumatera oleh pemerintah Indonesia seperti tidak ada artinya. Keberadaan Gajah Sumatera di Bentang Alam Sebelat terus menuju kepunahan.

Diperkirakan jumlah Gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat saat ini hanya berkisar 40 hingga 60 ekor. Jumlah tersebut sangat jauh berbeda dengan kondisi pada tahun 1990 an yang diperkirakan masih berjumlah 150 hingga 200 ekor.

Penurunan jumlah individu Gajah Sumatera disebabkan aktivitas perburuan dan pengrusakan habitat, ekosistem, seperti aktivitas pembukaan lahan perkebunan dan pertambangan oleh masyarakat dan perusahaan.

Koordinator aksi Kanopi Hijau Indonesia, Cimbyo Layas Ketaren menyatakan bahwa status perlindungan yang ditetapkan pemerintah bahkan dunia terhadap populasi Gaja merupakan status perlindungan palsu.

“Gajah Sumatera merupakan satwa dilindungi menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,” tegas Cimbyo.

Dikatakan Cimbyo, populasi Gaja di bentang alam Sebelat dikategorikan terancam punah oleh IUCN. Status ini seperti tak ada artinya, karena aktivitas perburuan dan perusakan habitat untuk perkebunan dan pertambangan terus berlangsung di Bentang Alam Sebelat.

“Ini tidak bisa dibiarkan, harus ada aksi nyata dari pemerintah untuk menyelamatkan populasi Gaja di bentang alam Sebelat ini,” ucap Cimbyo.

Agenda peringatan Hari Gajah Sedunia tahun 2025 di Bengkulu di ikuti oleh 10 lembaga dari berbagai elemen. Cimbyo menyampaikan bahwa masa aksi menuntut APH menindak tegas pelaku perburuan dan perusak kawasan Bentang Alam Seblat.

“Selain itu kami juga meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mencabut konsesi pertambangan PT Inmas Abadi yang berada di kawasan bentang alam Sebelat. Kami juga meminta Presiden untuk tidak memberikan izin baru kepada perusahaan serta meminta Menteri Kehutanan untuk meningkatkan status Bentang Alam Seblat menjadi Cagar Alam,” sampai Cimbyo.

Vokalis band Jonikane, Kiki Rantisi turut hadir dibarisan massa aksi Hari Gajah Sedunia yang digelar di ikon Pantai Panjang Bengkulu kemarin. Dalam aksinya Kiki Rantisi menyampaikan kekhawatirannya terhadap keberlangsungan satwa Gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat.

“Aktivitas perusakan kawasan Bentang Alam Seblat bukan hanya mengancam satwa Gajah Sumatera tetapi satwa lain seperti Harimau Sumatera, Burung Rangkong dan Tapir. Perusahaan perusahaan yang merusak Bentang Alam Seblat harus diusir dari kawasan tersebut. Pelaku harus diproses sesuai hukum yang berlaku,” ungkap Kiki dengan semangat.(aba)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,911PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles