WARNABENGKULU.CO.ID, SELUMA– Harga jual kopi kering saat ini terus mengalami kenaikan. Data didapat, saat ini harga jual kopi kering mencapai Rp 67 ribu per kilogram. Bahkan ada sebagian tauke atau pengepul membeli dengan harga Rp 70 ribu per kilogram.
Di Kabupaten Seluma, tepatnya di Desa Cawang Kecamatan Lubuk Sandi naiknya harga Kopi ini belum begitu berpengaruh terhadap peningkatan ekonomi. Sebab hasil panen menurun drastis di musim panen tahun 2025 ini.
Menurunya hasil panen ini ditenggarai oleh cuaca ekstrem yang terus melanda Kabupaten Seluma hingga saat ini. Bunga kopi tidak menjadi buah yang sempurna, banyak yang menghitam dan akhirnya membusuk. Karena tidak mendapat sinar matahari yang cukup, akibat hujan yang terus turun saat musim kopi berbunga.
Fenomena ini sudah sering dialami petani kopi, sehingga menjadi momok yang sangat menakutkan. Mimpi untuk meningkatkan ekonomi keluarga, di tengah naiknya harga kopi gagal akibat menurunnya Hasil panen.
Melihat kegagalan petani kopi yang sering berulang ini, sudah sepatutnya pemerintah turun tangan. Penyuluhan dan pembinaan menjadi langkah yang tepat, agar di musim panen mendatang para petani kopi mendapatkan hasil panen yang maksimal.
Peran dan campur tangan pemerintah sangat dibutuhkan oleh petani agar bisa mendapatkan hasil panen yang maksimal. Karena mayoritas petani kopi ini minim pengetahuan tentang budidaya kopi. Hanya bermodalkan semangat dan tenaga, membuka lahan untuk dijadikan kebun kopi.
Seperti contoh kecil, hingga saat ini petani kopi tidak mendapatkan fasilitas pupuk subsidi. Padahal sesuai aturannya, petani kopi memiliki hak untuk mendapatkan pupuk yang disubsidi oleh pemerintah, sesuai dengan yang diatur oleh Permentan Nomor 10 Tahun 2022.
Ketidaktahuan petani akan program pemerintah, menjadi salah satu kendala para petani kopi ini tidak tersentuh program ini. Sehingga pemerintah harus turun langsung melakukan sosialisasi. Sosialisasi melalui media tidak efektif, karena para petani kopi ini masih gaptek terhadap teknologi.
Banyak masyarakat menggantungkan hidup dari berkebun kopi ini. Akankah pemerintah terus diam, membiarkan para petani kopi berjuang sendiri. Mengandalkan tenaga dan semangat untuk mewujudkan mimpi keluarga.
Semoga melalui tulisan ini, pesan dan jeritan para petani kopi didengar oleh pemerintah. Petani kopi juga butuh perhatian, butuh pembinaan dan penyuluhan serta pupuk subsidi.(**)Â
Penulis: Juliadi Saputra
Mahasiswa UIN Fatmawati Bengkulu
Fakultas: Usuludin,Adab dan Dakwa




